Tanggapan Pebulu Tangkis Soal Kewajiban Ikut 12 Turnamen

Ada aturan baru yang mesti dipatuhi oleh para pebulutangkis dunia yakni kewajiban mengikuti 12 Turnamen. Aturan yang baru itu pasalnya menuai pro dan kontra tentu saja dari berbagi pihak terutama pebulutangkis Indonesia. Salah satunya adalah Liliyana Natsir.

Liliyana Keberatan

Pebulutangkis andalan Indonesia ini mengaku keberatan dengan aturan kewajiban 12 buah turnamen untuk pemain-pemain papan atas dunia pada musim kompetisi tahun 2018.

Di mulai pada musim ini, BWF pasalnya mewajibkan pemain-pemain papan atas dunia untuk ikut sejumlah 12 turnamen dalam jangka waktu 1 tahun. Sebaran turnamen apa saja juga sudah dirilis oleh BWF dalam rilis aturan yang baru itu. Aturan yang kali ini bisa dikatakan menjadi lebih ketat ketimbang musim yang lalu di mana musim lalu mewajibkan pemain-pemain papan atas di dunia tampil pada 5 turnamen super series saja.

Namun untuk Liliyana ini memberatkan. “Buat saya sih ya sejujurnya 12 pertandingan itu lumayan berat karena saya dan Tontowi selama ini tak pernah ikut banyak turnamen. Kami pilih-pilih dan juga menetapkan prioritas turnamen yang mana kami ikuti agar hasilnya bisa maksimal,” ujar Liliyana saat dimintai pendapat soal ini.

Pebulutangkis yang akrab dengan sapaan Butet ini memberikan contoh saat dirinya dan Tontowi memilih untuk mengikuti Indonesian Open dan Kejuaraan dunia pada tahun lalu. Keduanya dapat mempersiapkan diri selama kurang lebih 1 bulan lamanya demi bisa mendapatkan hasil yang maksimal juga.

Beray untuk Pemain Senior

“Tapi kalau misalnya terlalu beruntun, faktor usia juga kan berpengaruh. Seperti yang dibilang oleh Lee Chong Wei (kesulitan soal kewajiban 12 turnamen), saya pun merasakan itu. Yang mainnya di ganda saja sudah merasa berat, 12 event itu belum termasuk Asian Games juga dan juga Kejuaraan Dunia lho,” imbuhnya.

Ia mengaku akan mendiskusikan hal ini dengan pelatihnya dan bagaimana caranya menyiasati aturan yang baru tersebut. Jika tak mengikuti aturan yang baru itu pasalnya pemain bakal kena sanksi yakni berupa denda. “Mudah-mudahan saja aturan itu dapat diperbaharui untuk kami pemain senior yang lebih muda. Mungkin kalau untuk yang pemain muda tak masalah ada 12 event. Tapi kalau kami (senior) mesti memilih yang mana yang lebih prioritas,” tukasnya.

Tanggapan Pebulutangkis Lainnya

Rupanya tidak hanya Liliyana saja yang merasa keberatan dengan aturan baru dari BWF itu. Pebulutangkis yang duduk manis di peringkat 4 dunia dengan Mads Pieler Kolding yakni Mads Conard Petersen pun berpendapat yang sama. Aturan baru yang dirilis itu menurut dirinya terlalu menuntut pemain bulu tangkis banyak hal. Misalnya saja pebulutangkis-pebulutangkis dituntut untuk menjaga stamina dan kesehatannya. Serta mereka harus menjaga tubuh mereka supaya tidak mengalami cedera untuk bisa memenuhi kewajiban 12 buah turnamen Sinidomino super series di sepanjang tahun.

“Mungkin ini memang cukup sulit. 12 turnamen itu amat banyak. Kami mesti bermain di Thomas Cup, kami bermain 17 pekan dalam kurun waktu satu tahun. Kami juga mesti melakukan sebuah perjalanan yang sangat panjang dan jauh. Sehingga kami mesti memilih turnamen yang mana saja kah yang pas untuk kami,” ujarnya pada media dilansir dari CNN Indonesia.

Nampaknya apa yang dikatakan oleh Mads Conard Petersen itu setali tiga uang dengan apa yang dikatakan oleh Liliyana Natsir. Meskipun kewajiban 12 turnamen dalam setahun yang mesti diikuti oleh pemain-pemain papan atas itu harus dijalankan mereka masih berharap ada kebijakan lebih bijak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *